EMPAT LAWANG // SUM-SEL, aph88.com – Dugaan pungli atau pungutan liar terkait pencairan Program Indonesia Pintar (PIP) kembali mencuat di Pasemah Air Keruh. Kali ini, isu tersebut muncul di SDN 7 Desa Talang Padang ,Kecamatan Pasemah Air Keruh Kabupaten Empat Lawang.
Puluhan siswa penerima PIP pada dikabarkan mengalami pemotongan dana sebesar Rp.150 ribu oleh pihak sekolah dengan alasan untuk pembelian materai dan ongkos siswa dari kecamatan Pasemah Air Keruh ke kecamatan Muara Pinang .(24/12/25)
Seorang wali murid menjelaskan, sebelum pencairan di bank, wali murid dikumpulkan di sekolah. Kepala sekolah diduga meminta setiap penerima PIP menyetor Rp 150 ribu untuk keperluan materai dan administrasi dan ongkos siswa . “Bu kepala sekolah juga bilang, kalau sampai berita ini bocor keluar, dirinya tidak mau menguruskan lagi pencairan PIP dan pencairan tersebut sebesar Rp.450 ribu dan dipotong Rp.150 ribu per siswa” ujar wali murid yang meminta namanya tidak ditulis.
Begini Respon Kepala SDN 7 Kecamatan Pasemah Air Keruh soal Dugaan Pungli
Kepala SDN 7 Pasemah Air Keruh saat di konfirmasi melalui pesan whatshap inisial KM ”
Waalaikum salam , maaf kami tidak memotong duit bantuan tapi itu ongkos mobil pengantaran pulang pergi dari paiker sampai ke muara pinang untuk 2 orang 150 tu kira2 menurut bapak berangkat ke tujuan tidak usah pakai ongkos yg dapat duit itu kan murid dn orang tua nya bukan sekolah yg dapat duit nya , memang nya udah ada yg mengeluh pak pakai logika dikit apa sanggub jalan kaki dari paiker sampai ke muara pinang ,tidak bersyukur lah di bantu anak nya tapi masih membuat dosa,Maaf kami tidak mengerti dengan orang2 yg hati nya tidak bersih suatu saat nanti Allah yg akan membalas Nya”
Sangat di sayangkan jawaban dari kepala sekolah tersebut dan kami juga mempertanyakan jika oknum-oknum melakukan pemotongan lalu apa pungsu dari DANA BOS tersebut atau diduga DANA BOS SDN 7 guna untuk Kepala SDN 7 guna untuk memperkaya diri
Kami terus mengalih informasi ini lebih detail dan akan meneruskan temuan ini kepada dinas terkait dan Aparat Penegak Hukum agar segera memanggil dan menindak lanjuti hal ini karena berdasarkan dari peraturan Kementerian Pendidikan sudah jelas.
(@red).









